SKETSA POKOK PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DALAM BUKUNYA MUQADDIMAH BAB V

Posted: Januari 12, 2013 in Sosiologi

Gambar

Oleh, Bodro Sigit Rahwono

Auguste comte (1798-1857) adalah pencetus istilah sosiologi sebagai ilmu sosial yang bertujuan untuk membaca kehidupan masyarakat secara empiris, karena hanya dengan sosiologilah kekacauan sosial era industri dapat diperbaharui dengan teori-teri sosial. Kemajuan sosiologi khusunya di Eropa semaki pesat diera  founding father sosiologi yaitu, Karl Marx, Emile Durkheim, Max weber, dan Simmel. Namun sejarah sosiologi tidaklah hanya menjadi milik Eropa saja tetapi masa kejayaan Timur Tengah khususnya dinasti abbasiyah telah terlebih dulu mengembangkan kosep sosiologi melalui Ibnu Khaldun. Ibnu khaldun merupakan tokoh sosiologi sekaligus ekonomi yang telah terlebih dulu membahas fakta sosial secara empiris, diantara pemikirannya yang terkenal adalah assobiyah, modal sosial, pembagian kerja dan sebagainya. Dalam buku muqaddimah ibnu khaldun ini saya akan membahas BAB V yang berhubungan dengan ekonomi dan masyarakat.

a.      Keuntungan dan Nilai Lebih

Kodrat manusia menurut Ibn Khaldun adalah untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya dalam rangka mempertahankan eksistensi diri. Dimulai dari sejak bayi, masa kanak-kanak, remaja, sampai usia dewasa hingga masa tua, semuanya untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Ibnu Khaldun membedakan harta menjadi dua yaitu rizeki (konsumsi) dan keuntungan (akumulasi modal), harta-harta tersbut diperoleh melalui upaya kerja manusia baik melakukan pertambangan, peternakan, pertanian, perrtukangan dan lain sebagainya. Menurut ibnu khaldun keuntunganlah yang mengubah  sejarah manusia ketahap yang lebih tinggi (peradaban) karena keuntungan inilah yang kemudian menjadi cara agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Lebih lanjut lagi modal tersebut di tumpuk dengan menjadikan perak dan emas sebagai tanda kekayaan individual. Dan kekayaan tersebut dapat digunakan secara turun-temurun membentuk peradaban kelas sosial melalui harta warisan.

Menurut ibnu khaldun keuntungan diperoleh dari nilai lebih barang yang diproduksi, misalnya dalam pengolahan kayu dan tenun. Sehingga barang mentah harus diperhitungkan secara maksimal karena tentunya barang mentah akan lebih murah ketimbang barang jadi. Khaldun beranggapan bahwa kerja juga merupakan modal yang harus disertakan dalam biayaya produksi, karena dengan kerja inilah barang bernilai jual yang lebih tinggi dari bahan mentah. Namun keuntungan bukan hanya diperoleh melalui produksi barang saja tetapi nilai lebih (keuntungan) juga diperoleh melalui distribusi barang ataupun selisih keuntungan dagang dari para pedagang.

Menurut Ibn Kaldun, pedagang adalah orang yang mencari sejumlah keuntungan dan mengembangkan modal dari usaha jual beli barang. Selisih antara harga jual dengan harga beli disebut sebagai keuntungan (nilai lebih). Untuk memperoleh keuntungan, terdapat berbagai cara yang biasa dilakukan oleh pedagang, seperti membeli murah dan menjual mahal, menimbun sampai harga barang menjadi tinggi atau mengantarkan barang dari daerah yang satu ke daerah lain yang membutuhkan. Misalnya nilai lebih dalam distribusi semakin jauh transportasi barang maka nilai jual barang akan semakin tinggi jumlahnya karena selain membutuhkan tenaga lebih dalam transportasi umumnya barang yang dijual tidak ada di daerah tersebut sehingga menyebabkan nilai jual menjadi lebih tinggi.

Selain itu Ibnu Khaldun juga banyak memberikan teori-teori ekonomi tentang hukum permintaan, penawaran, dan distribusi. Sebagaimana dalam ekonomi modern Khaldun juga telah mengetahui bahwa semakin tinggi harga akan semakin mengurangi permintaan dan semakin randah harga akan semakin banyak permintaan (hukum permintaan). Contohnya telaah Khaldun mengenai kelangkaan barang, jika barang yang dijual tidak ada ataupun langka di daerah tersebut maka nilai jual akan menjadi lebih tinggi, hal itu dibuktikan dengan mahalnya harga barang jika dijual ditempat lain yang tidak memiliki barang yang sejenis.

Semakin sedikit barang semakin tinggi harga dan semakin banyak barang semakin rendah tingkat harga ( hukum penawaran). Misalnya dalam kasus penimbunan barang oleh pedagang, ketika barang ditimbun maka akan semakin tiggi harga penawaran dan sebaliknya jika barang semakin banyak maka harga penawaran akan semakin murah. Namun ibnu khaldun menggaris bawahi bahwa menimbun barang yang tidak bertahan lama seperti buah-buahan dan sayuran justru akan merugikan pedagang itu sendiri karena permintaan akan menurun dan barang akan membusuk karena tidak bertahan dalam jangka waktu yang lama.

b.      Modal Sosial

Ibnu Khaldun membedakan laba yang diperoleh secara individu dengan laba yang diperoleh dari memperkerjakan orang lain. Apabila mempekerjakan orang lain, laba tersebut harus dipandang sebagai nilai dari tenaga kerja. Tenaga kerja inilah nantinya menggunakan modal sosial mereka unutuk bekerja kepada pemilik pemodal ataupun tuan tanah, yang dimaksud “modal sosial” disini adalah keahlian yang dimiliki tenaga kerja yang nantinya mereka memperoleh upah atas apa yang mereka usahakan.

Konsep Ibn Khaldun ini menganggap bahwa peranan tenaga kerja, baik yang tampak secara jelas maupun yang tersembunyi, memliki andil yang besar dalam melahirkan keuntungan atau laba. Sehingga keahlian yang dimiliki pekerja ini harus dihargai secara setimpal oleh orang yang mempekerjakannya, karena pekerja telah memproduksi barang dan pemilik modal mendapatkan nilai jual barang yang lebih tinggi.

Pandangan ini sebenarnya dapat disejajarkan dengan konsep “nilai lebih tenaga kerja” dari Karl Marx. Marx menganggap bahwa laba perusahaan yang diklaim sebagai hak kaum kapitalis merupakan hasil kerja keras buruh. Sehingga menurut marx kaum borjuis harusnya memberikan kesejahteraan yang seharusnya dimiliki oleh tenaga kerja dengan menghilangkan sekat-sekat produksi, bahkan mungkin revolusi proletariat. Ibnu khaldun juag berpendapat bahwa pemilik modal harus menyejah terakan pekerjanya melalui pekerjalah mereka mendapat keuntungan, namun ibnu khaldun menganggap tidak perlu adanya revolusi karena seperti itulah alam secara alamiah berjalan.

Lebih lanjut lagi terdapat titik utama perbedaan Pemikiran Ibn Khaldun dan Karl Marx terdapat mengenai pekerja (buruh). Apabila Karl Marx menempatkan penguasaan alat produksi sebagai sumber kesejahteraan dan kekuasaan, tidak demikian dengan Ibn Khaldun, Ibnu Khaldun lebih menempatkan status (kelas) sebagai sumber kesejahteraan dan kekuasaan. Pandangan Ibn Khaldun ini menunjukkan bahwa “modal sosial” jauh lebih penting “modal material” seperti yang dianut oleh Karl Marx.

Perbedaan lain adalah pandangan mereka tentang relasi antar kelas. Ibn Khaldun melihat kecenderungan masyarakat dari kelas rendah untuk mendekati dan meminta perlindungan kepada masyarakat dari kelas yang lebih tinggi dengan cara bekerja kepada pemodal. Imbalan yang didapat pekerja adalah berupa keuntungan secara ekonomis, sosial dan politik untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sedangkan pemodal sendiri mendapatkan keutungan dari tenaga kerja untuk memproduksi barang.  Sedangkan Karl Marx lebih melihat relasi antar kelas bukanlah kemauan sukarela individu tetapi lebih dijiwai oleh semangat kompetisi dan konflik antara pemodal dan pekerja.

c.       Pembagian Kerja

Dalam karyanya ibnu khaldun khusunya bab 5 dalam muqaddimahnya banyak membahas spesialisasi pekerjaan, mulai dari berdagang, perukangan, pertanian, guru, arsitektur, kebidanan, kedokteran, garmen, kesenian, pegawai institusi dan sebagainya. Posisi-posisi tersebut memiliki fungsi-fungsi tersendiri dalam masyarakat yang kemudian akan membentuk peradaban.

Ibnu khaldun mencontohkan bahwa seorang penjahit yang telah lama menjadi ahli dalam menjahit kemampuannya akan menghilangkan keingninan untuk mengerjakan profesi lain. Seorang penjahit tidak akan ahli dalam pertukangan kayu ataupun batu karena manusia tidaklah serempak atau memiliki keahlian yang banyak, sehingga manusia akan kurang tertarik menerima pekerjaan diluar keahlian mereka. Menurut ibnu khaldun spesialisasi itu sangat diperlukan untuk mempermudah dan mengefektifitaskan produksi manusia yang telah semakin banyak.

Ibnu khaldun menggambarkan bahwa spesialisasi kerja bukan hanya terjadi pada jenis pekerjaan yang berbeda jenis saja tetapi kompleksitas spesialisasi juga terjadi pada pekerjaan yang sejenis. Misalnya dalam bidang arsitektur dan bangunan spesialisasi keahlian bermacam-macam, sehingga dibutuhkan beberapa arsitek untuk membuat sebuah konstruksi bangunan. Ada arsitek yang mengurusi tembok dengan timbangan pengukur, perancang peralatan untuk mempermudah pengangkatan benda berat bahkan ada yang harus bekerja kasar sebagai penggerak peralatan dan sebagai pekeja bangunan.

Jika kita telaah pemikiran ibnu khaldun ini tidak jauh berbeda dengan pemikiran Emile Durkheim tentang devision of labor in society, masyarakat tidaklah hanya diikat oleh kesamaan orang yang melakukan pekerjaan yang sama tetapi pembagian kerjalah yang mengikat manusia untuk tergantung satu sama lainnya. Lebih lanjut lagi durkheim menganggap di era industrialisasi manusia dituntut untuk mempunyai spesialisasi keahlian untuk menunjang produksi barang.  Hal itu dibuktikan dengan pabrik yang menggunakan teknik spesialisasi lebih memberikan keuntungan yang besar dibanding tetapi bagi durkheim yang terpenting bukanlah keuntungan ekonomi itu sendiri tetapi yang terpenting bagi durkheim spesialisasi kerja itu menimbulkan solidaritas organis yang mengikat komunikasi dan interkasi masyarakat.

Yang membedakan pemikiran Durkheim dengan Ibnu Khaldun adalah kondisi sosial masyarakat, Durkheim yang hidup diera yang lebih maju bukan hanya melihat spesialisasi kerja sebagai kebutuhan dan meningkatkan keuntungan saja tetapi lebih penting dari itu spesialisasi memberikan tatanan solidaritas terbaru dari solidaritas mekanik menuju solidaritas organik. Tetapi perlu dicatat bahwa Ibnu Khaldun mengakui adanya faktor assabiyah (solidaritas) di luar kekeluargaan (nasb) tetapi intensitasnya tidaklah seperti solidaritas nasb, karena konteks sosial masyarakat yang terjadi ketika itu adalah masyarakat tradisional dengan solidaritas mekanik yang sangat kuat.

                                                 Penulis adalah Mahasiswa smester 5 dari prodi Sosiologi

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s