Archive for the ‘Karl Marx’ Category


Karl Marx merupakan Tokoh sentral dalam dalam sosiologi, walaupun terdapat berbagai tokoh besar sosiologi yang berjasa membangun ilmu sosiologi sebagai pengetahuan namun jika dilihat dari perkembangan sosiologi banyak mengadopsi dan merupakan hasil dari kritisi terhadap Marx. Karl Marx sendiri tidak mengakui dia adalah seorang sosiolog, tetapi secara fundamental Marx telah melahirkan konsep sosiologi yang masih relevan dengan semakin berubahnya zaman, seperti konsep Alineasi, dialektika, Materialisme historis, Konsep kelas dan sebagaainnya. Konsep sosial Marx bukan hanya menjadi imajinasi semata tetapi telah dibuktikan dan diadopsi oleh berbagai negara didunia, di Uni Soviet Marx dianggap sebagai “Nabi Kemanusian” yang mengajarkan kepada manusia arti sebuah kehidupan dan keadilan. Konsep sosial Marx menghasilkan Negara Uni Soviet yang dibentuk melalui pemikiran-pemikiran Marx yang diinterpretasikan oleh Lenin dan Stalin. Bahkan terbentuknya negara Iran sebagai negara islam yang berdiri kokoh tidak lepas dari pemikiran Karl Marx yang diadopsi oleh para intelektual Iran, kususnya oleh bapak pembaharu dan intelektual Iran Ali Syariati yang mendialektikakan antara islam dan komunisme, yang menjadi puncaknya adalah tumbangnya rezim Iran yang dipimpin oleh rezim Pahlevi.

Agama dalam sosiologi merupakan suatu kajian yang sangat penting dalam sosiologi, bahkan para pendahulu sosiologi baik itu August Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, selalu membahas agama dalam konsep sosiologinya. Disini akan dibahas konsepsi agama menurut Marx, adapun Konsepsi agama menurut Durkheim dan Weber  akan dijelaskan dalam pembahasan yang selanjutnya. Marx adalah tokoh yang hidup dimasa 3 revolusi sehingga Marx mengalami sendiri realitas masyarakat diera tersebut, sehingga pembacaan terhadap agamapun secara konteks sangat dipengaruhi oleh sosialkultural masyarakat eropa diabad pertengahan.

Marx menkonsepsikan kehidupan dalam suatu basis materialisme yang universal yang menjadi penggerak sejarah, yaitu struktur basis yang merupakan penggerak utama struktur supra. Struktur basis adalah ekonomi yang mencangkup seluruh proses ekonomi baik produksi, konsumsi, persaingan ekonomi, dan sebagainya. Sedangkan struktur supra terdiri dari berbagai sektor misalnya politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya, struktur supra ini merupakan representasi (gambaran) dari struktur basis.

Ekonomi adalah pondasi dasar sejarah kehidupan manusia, karena ekonomi merupakan induk dari segala sub struktur kehidupan yang melahirkan berbagai basis supra. Jika kita menelaah dari perspektif ibnu Khaldun dalam bukunya al-Muqaddimah maka akan kita temukan alur pemikiran Ibnu Khaldun yang senada dengan Karl Marx, walaupun secara esensinya personalisasinya berbeda. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa “ Kondrat manusia tidak cukup hanya memperoleh makanan. Sekalipun makanan itu ditekan sedikit-dikitnya sekedar cukup untuk makan sehari-hari saja, misalnya sedikit gandum, namun diperlukan usaha yang banyak juga. Misalnya menggiling, meramas, memasak. Masing-masing pekerjaan membutuhkan sejumlah alat, dan hal inipun menuntut pekerjaan tangan yang lebih banyak lagi dari yang telah disebutkan diatas”.[1] Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya kecuali dengan bergotong royong dengan menggabungkan dengan beberapa ahli.

Dari pernyataan tadi dapat kita simpulkan bahwa penggerak sejarah manusia adalah konsumsi kemudian dengan konsumsi tersebut melahirkan segala bentuk sub struktur baik itu organisasi politik, prosuksi, social kemasyarakatan dan sebagainya. Dengan konsumsi tadi manusia bekerja sesuai dengan keahliannya dalam masyarakat dimana inilah yang membentuk spesifikasi keahlian, dari konsumsi melahirkan produksi, pabrik, organisasi politik, social, kebudayaan dan sebagainya. Yang membedakan pembacaan Ibnu Khaldun dan Marx adalh wujud personalisasinya jika menurut Ibnu Khaldun manusia memperoleh kodrat tersebut dari Tuhan maka Marx mengatakan bahwa hal tersebut merupakan hakikat dari manusia itu sendiri.

Struktur basis dalam konteks Marx adalah bangunan dasar atau pondasi pokok dalam sejarah atau kehidupan manusia, dimana struktur basis ini adalah yang melahirkan struktur supra. Agama, politik, budaya dan sebagainya dilahirkan dari ekonomi, asumsi dasar Marx adalah ketika manusia menjauh dari Ekonomi atau untuk memperkuat kelancaran ekonomi maka manusia akan berpaling atau membentuk struktur yang lain yang mendukunggnya. Mengapa agama lahir dari ekonomi? Pertanyaan ini dapat dijawab menggunakan filsafat yang sederhana “ pada manusia primitif agama difungsikan untuk menggambarkan rasa syukur karena panen yang melimpah atau sebagai ritual pengorbanan untuk mempersembahkan korban karena gagal panen atau terserang wabah penyakit”. Artinya dalam tesis filsafat tadi agama hanya dijadikan alat sebagai pemenuhan hasrat ekonomi dan ketakutan manusia.

Marx menafsirkan agama sebagai candu bagi masyarakat “ Kesukaran agama- agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan protes melawan kesukarann yang sebnarnya. Agama adalah nafas lega makhluk tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spirit kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat” (Marx, 1843/1970).[2]

Dalam hal ini anda sebagai umat yang beragama tidak boleh menyalahkan Marx sepenuhnya, karena asumsi dari Marx itu merupakan hasil dari pengamatan Marx diera revolusi. Agama hanya dijadikan sebagai pelampiasan kegagalan manusia yang kalah dalam pertarungan dunia, dan dalam kenyataannya agama hanya dijadikan sebagai penenang diri terhadap kekalahan dari dunia. Agama membuat manusia malas berkarya dan hanya menerima segala penderitaan dengan harapan surga. Bagi Marx agama adalah hanya sekedar imajinasi dari ketidak berdayaan manusia terhadap struktur basis, Marx mengkritisi filsafat Hegel yang mengatakan bahwa Roh Absolut yang mengerakkan segala tindakan manusia dan alam semesta, kemudian Marx membalikkannya, dengan mengatakan bahwa manusialah penggerak sejarah sesungguhnya, Roh Absolut hanyalah hasil imajinasi dari ketidak bedayaan manusia didunia.

Konsep antroposentris Marx inilah yang kemudian melahirkan materialisme historis, Agama hanyalah penghambat kemajuan manusia dalam mencapai kesempurnaan, dalam pembacaan saya sendiri diera munculnya kapitalisme dalam buku “ Etika Protestan dan Spirit  Kapitalisme” karya Weber saya menemukan suatu keganjalan dan perasaan skeptic terhadap pemikiran weber. Memang benar semangat protestan beserta aliran-alirannya terutama setelah gagasan Marti Luther yang mengkritik katolik memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan kapitalisme di Eropa. Protestan banyak dianut oleh intelektual yang merasa dikekang pemikirannya oleh gereja, oleh karena itu pengikutnya cenderung merasionalkan agama untuk di sesuaikan dengan kebutuhan dunia.

Tetapi dalam kenyataannya penganut protestan lebih mementingkan kehidupan dunia yang diagamakan, untuk dijadikannya kerja sebagai ibadah pokok manusia untuk mendekatkan dirinya kepada tuhan. Artinya ketika manusia meninggalkan agama kemudia menggantinya dengan Ekonomi maka akan membangun perekonomian yang lebih matang. Sebagai konsep Marx yang saya reduksi menjadi asumsi dasar saya, “Manusia memiliki energi yang sangat besar untuk menjalankan sejarah dunia, diamana energi tersebut jika digunakan dalam berbagai segi kehidupan baik dalam ekonomi, agama, politik, budaya dan sebagainya, alokasi energi terhadap salah satu pilar tadi akan mengurangi energy di sub bagian yang lain”.

Jika kita memusatkan segala aktivitas dan enegi kita untuk mengejar kesempurnaan ekonomi maka nantinya kita akan mendapatkannya dan mengurangi pengalokasian dienergi lainnya. Sebagai contoh realnya orang yang sudah mengapai kekayaan atau kesempurnaan ekonomi maka orang tersebut akan cenderung apatis terhadap ibadah ritual agama, ia cenderung memilih ibadah praktis demi kelancaran pekerjaannya misalnya dengan sumbangan, sentunan dan sebagainya.

Agama menurut Marx hanya dijadikan sebagai alat legitimasi penindasan, keotoriterian penguasa dan menjadi alat sebagai pembodohan manusia. Jika dibenturkan disituasi konteks marx maka dapat kita baca dengan jelas bahwa kalangan gereja diabad pertengahan kebawah dijadikan sebagai alat legitimasi penindasan oleh para penguasa. Umat Kristen oleh gereja selalu didoktrin akan keindahan surga jika menjalankan penderitaan tersebut dengan sukarela dan tidak melawan rezim yang sedang memimpin. Para pemuka agama memanfaatkan kedudukan yang strategis itu justru untuk melegalkan penindasan dimasa itu. Salah satunya adalah melarang kebebasan berpikir, jika kebebasan berfikir tersebut digunakan sebagai alat untuk melawan penindasan pemerintah para agamawan  demi mempertahankan posisinya akan menuduh orang tersebut dengan pemberontak, kafir atau bidah dan sebagainya.

Agama sebagai salah satu sumber konflik, agama adalah salah satu hal yang menjadikan alienasi dalam masyarakat. Perbedaan dalam agama justru menyekat-nyekat kehidupan social dan sebagai penyebab konflik yang mengatas namakan agama. Dalam sejarah Indonesia sendiri konflik antar umat beragama sering terjadi misalnya saja kasus di Poso, agama dijadikan alat untuk melegitimasi pemunuhan padahal permasalahan pokok hanyalah yang utama hanyalah dibidang ekonomi dan politik.

Pemikiran Marx ini banyak menginspirasi para tokoh untuk memperjuangkan dan membela rakyat dari segala penindasan. Di Amerika latin misalanya  Gustavo Gutiérrez yang merupakan pastur di Amerika latin mencetuskan “ Teologi Pembebasan” dimana agama dijadikan alat untuk membebaskan rakyat dari para kapitalis dan kediktaktoran pemerintah. Meski banyak mendapat tentangan dari pemerintah maupun Vatikan, Gustavo tetap memperjuangkan kepentingan rakyat. Menurut Gustavo agama harusnya digunakan sebagai alat pembebas bukannya sebagai alat penindas. Di Islam sendiri Teologi pembebasan ini juga dipraktekkan oleh Syariati, dimana syariati mengecam para ulama yang membela kepentingan para borjuis demi kepentingan pribadi daripada rakyat yang semakin tertindas. Bahkan Syariati menuduh ulama yang berlindung dibalik borjuis sebagai polities yang menyembah banyak Tuhan.


[1] Ibnu Khaldun, AL-Muqaddimah, ( Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 2000 diterjemahkan oleh Ahmadie Thoha), hlm. 71

[2] George Ritzer dan Douglas, Sosiological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2004). hlm. 74